top of page
  • rahardininurina

Berjuang Mendampingi Buah Hati, Disleksia Istimewa

Mendapatkan amanah sebagai seorang ibu dengan anak spesial, tidak menjadikannya patah semangat. Sang ibu bahkan bisa mendampingi putranya meraih banyak penghargaan di bidang akademik. Simak kisah penuh inspirasi dari sosok baik di artikel berikut.

Mari berkenalan dengan Hilda Astari Febrianty, seorang ibu dari 1 putra yang saat ini bertempat tinggal di Tasikmalaya. Mami, begitu sapaan akrabnya, meski harus berjuang dalam proses pengasuhan ananda, ia telah mendampingi ananda hingga memperoleh 26 penghargaan di bidang akademik selama 3 tahun terakhir.

Hai Teman Baik Ipedia!


Mari berkenalan dengan Hilda Astari Febrianty, seorang ibu dari 1 putra yang saat ini bertempat tinggal di Tasikmalaya. Mami, begitu sapaan akrabnya, meski harus berjuang dalam proses pengasuhan ananda, ia telah mendampingi ananda hingga memperoleh 26 penghargaan di bidang akademik selama 3 tahun terakhir.


Mendapatkan Ujian Lewat Sang Buah Hati


Meski sempat tak percaya awalnya, pada akhirnya Hilda harus bisa menerima ketika sang anak mendapatkan diagnosa disleksia. Saat itu, Wizdan, sang putra, masih berusia 2 tahun saat mulai menunjukkan tanda-tanda yang cukup berbeda dengan anak seusianya.


Mulai dari energi anak yang tidak mudah habis, mudah tantrum, rasa ingin tahu yang tinggi, serta keterbatasan kemampuan berkomunikasi pada orang sekitar Wizdan. Beberapa kondisi inilah yang merupakan ciri-ciri yang dialaminya.


Diagnosa tersebut akhirnya tegak saat Wizdan berusia 4 tahun. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Wizdan termasuk dalam kategori 2e gifted (twice exceptional) disleksia ringan ke sedang dan gangguan bahasa sosial berat. Penyandang disleksia di sini mengalami kesulitan belajar spesifik dalam hal berbahasa. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena otak penyandang disleksia memiliki perbedaan dalam proses pemrosesan bahasa.



Dukungan Penuh Dari Keluarga


Awalnya Hilda sempat sangsi dan khawatir bagaimana cara menyampaikan kondisi ananda kepada pihak keluarga. Hingga akhirnya Hilda memboyong seluruh keluarganya ketika berkonsultasi dengan psikolog. Tujuan utamanya tentu agar seluruh keluarga bisa memiliki satu suara dalam proses pengasuhan.


Yang paling utama adalah menerima kondisi anak. Bagaimanapun, karena itu adalah titipan dari Allah. Ketika kita diberikan anak yang spesial, maka berarti kita juga orang tua yang spesial. Tidak boleh berlarut dan segera move on untuk memperbaiki kondisi anak agar bisa memiliki coping strategy dan rasa percaya diri terhadap sesuatu yang bisa ia banggakan.

Dari hasil konsultasi dengan psikolog, perlu ada satu orang yang memegang kendali utama dalam proses pengasuhan Wizdan. Maka hal inilah yang kemudian membuahkan keputusan bahwa sang ibu yang akan mengambil peran tersebut. Tidak hanya itu, sang kakek dan nenek juga memiliki pemikiran yang terbuka dalam menerima informasi ini. Bahkan kakek dari Wizdan juga aktif mencari informasi dan menambah wawasan tentang disleksia.


Menyamakan suara untuk pola pengasuhan tentu tidak mudah, tapi semuanya bertujuan memudahkan proses pengasuhan. Apalagi ternyata perjuangan Hilda dan keluarga membersamai sang anak membuahkan hasil yang manis. Wizdan kini berhasil meraih penghargaan akademis baik kancah nasional dan internasional.


Lantas tantangan apa saja yang dihadapi Hilda dalam melakukan pengasuhan kepada sang buah hati dan juga berjauhan dengan sang suami? Kondisi seperti apa yang membuatnya memutuskan untuk berkonsultasi kepada profesional? Simak kisah lengkapnya hanya di This is Me, Disleksia Istimewa :



16 views0 comments

Comments


bottom of page